Broken Home ” adalah dua kata yang sudah sangat sering kita dengar dalam kehidupan kita sehari-hari. Di dunia ini cukup banyak anak yang hidup dalam keluarga yang Broken Home dan tidak sedikit pula dari mereka yang tidak sanggup menerima kenyataan tersebut sehingga mereka terjerumus ke dalam tindakan-tindakan negatif yang akan selalu mereka lakukan karena ketidaksanggupan menerima kenyataan tersebut.
Begitu banyak contoh yang bisa kita saksikan di dalam kehidupan ini, banyaknya anak orang kaya yang kurang mendapatkan kasih sayang kedua orangtuanya yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing sehingga si anak memutuskan untuk melakukan hal-hal yang dia sukai agar perasaan sedih dan kecewa terhadap kedua orangtuanya bisa ia lupakan.
Terkadang saya juga berpikir kenapa di dunia ini harus ada yang namanya Broken Home padahal kalau dipikir-pikir hidup itu akan terasa indah apabila tidak ada yang namanya Broken Home. Namun yang paling saya sedihkan adalah saat seorang anak tidak mapu menghadapi Broken Home tersebut dan melakukan hal yang tidak seharusnya mereka lakukan seperti pergi ke bar, cafe-cafe yang tidak pantas untuk dimasuki, diskotik, melakukan berbagai kenakalan dan masih banyak contoh tindakan-tindakan negatif lainnya.
Namun tak semua anak yang hidupnya Broken Home melakukan berbagai tindakan negatif seperti yang telah saya sebutkan diatas. Segelitir anak juga masih bisa menggunakan akal sehatnya dan tetap bertahan dikeluarganya itu, sekalipun dia harus berjuang mati-matian agar dia tidak terjerumus ke dalam kenakalan remaja yang justru akan lebih memperparah keadaan.
Sofyan
Willis (2009) dalam buku“Konseling keluarga”, menjelaska bahwa
terjadinya broken home sebuah keluarga sedikitnya disebabkan olehtujuh faktor antara lain:
Pertama, kurang atau
putusnya jalinan komunikasi diantara keluarga khususnya antara ayah
dan ibunya.
Kedua, munculnya sikap egosentris,
merasa unggul dari masingmasing
keluarga terutama egosentris dari ayah
dan ibu. Egosentris ini muncul karena masing-masing merasa memiliki hak dan
kewajiban yang sama, bahkan juga merasa memiliki kemampuan
yang lebih diantara keduanya. Egosentris ini mumcul biasanya jika diantara keduanya merasa
memiliki kemampuan yang sama secara ekonomi/penghasilan.
Ketiga, masalah
kesibukan orang tua. Kesibukan yang dimiliki kedua orang tua menimbulkan
sulitnya memberikan waktu untuk keluarga, sehingga elemen dalam
keluarga menggunakan waktu masing-masing tanpa ada kontrol dari orang tua.
Keempat, permasalahan perekonomian
keluarga. Ekonomi keluarga yang cenderung kurang jika tidak disikapi dengan perasaan
yang tulus dan “nerimo
ing pandum” akan mudah menimbulkan persoalan yang negatif
bagi keluarga.
Kelima, pendidikan
orang tua yang rendah. Pendidikan menjadikan manusia mampu berfikir dan
bersikap dewasa, sehingga ketika menerima persoalan, akan mampu
mencari alternatif yang sesuai dengan norma sosial dan agama.
Sebaliknya jika pendidikan rendah secara umum tidak mampu memunculkan sikap dan cara
fikir yang dewasa sehingga
mudah melakukan alternatif yang kontraproduktif
dengan etika, dan norma sosial maupun agama.
Keenam, perselingkuhan. Perselingkuhan
adalah bentuk ketidakpercayaan diantara kedua orang tua. Sebuah keluarga jika diawali
dengan ketidakpercayaan diantara keduanya akan mudah menimbulkan persoalan yang negatif bagi
kelangsungan keluarga.
Ketujuh, jauh dari
nilai-nilai agama. Nilai agama yang dimaksud adalah kesediaan untuk
memahamai dan melaksanakan nilai-nilai agama. Jika sebuah keluarga
sudah jauh atau tidak peduli dengan nilai-nilai agama akan berpotensi
besar untuk melakukan pelanggaran nilai nilai agama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar